Asyiknya Liburan Naik Kereta Uap Bersejarah di Ambarawa

Berwisata ke Ambarawa, wisatawan bisa mencoba naik kereta api uap yang bersejarah. Sekaligus nikmati udara pegunungan dan pemandangan, trip akan jadi semakin asyik! Kereta uap pariwisata milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang terletak di Ambarawa, Kabupaten Semarang kembali menjalankan perjalanan rute bersejarah yaitu Ambarawa-Bedono. Jalur ini menarik sebab memiliki lintasan mendaki dan rel bergerigi. Kereta uapnya pun tergolong langka karena cuma aktif di India, Swiss, dan Indonesia.

Rute sepanjang 9 KM itu dibuka PT KAI Daop IV Semarang bekerjasama dengan Unit Preservation and Museum. Direktur Komersial PT KAI, M. Kuncoro Wibowo menyatakan keberadaan kereta pariwisata dan juga jalur Ambarawa-Bedono diharapkan semakin menarik turis ke Jawa Tengah dan mengangkat pilihan pariwisata berbasis kereta api. “Saya surprise saat berwisata ke sini, perasaan capek tiba-tiba hilang. Di tempat ini bukan hanya museum, tapi ada kereta yang beroperasi dan bisa merasakan kenikmatannya,” kata Kuncoro di Stasiun Ambarwa,

kami mempunyai kesempatan merasakan sensasi menggunakan rangkaian 2 gerbong yang ditarik lokomotif uap B2503. Rute tersebut sengaja hanya sanggup dilewati oleh lokomotif karya Jerman tahun 1902 hal tersebut karena mempunyai pengaturan khusus untuk rel bergerigi. Lokomotif serupa yang tetap aktif kini hanya terdapat di India dan Swiss.

Kereta start dari Stasiun Ambarawa dengan speedity maksimal 20 KM/jam sehingga panorama indah hamparan sawah, gunung-gunung, kebun kopi, jalan raya Semarang- Yogyakarta boleh dinikmati. Ketika sampai di stasiun Jambu, kereta terhenti karena akan menghadapi jalur mendaki yang difasilitasi rel bergerigi. Saat susunan berhenti, maka lokomotif dilepas dari rangkaian lalu dilangsir pindah posisi ke bagian belakang.

Maka tidak heran, ketika jalur menanjak, gerbong tidaklah ditarik lokomotif, tetapi didorong. Keasyikan yang tidak dapat ditemui selain naik kereta uap di Ambarawa. Siulan cerobong asap lokomotif kuno ini melengkapi perjalanan menjelajahi jalur yang juga bersejarah itu.

Rel yang masih asli tersebut seolah-olah membawa ke masa lalu yang mana jalur Ambarawa-Jambu-Bedono mulai berjalan pada 1 Februari 1905 silam oleh jasa kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Kala itu Pemerintah Hindia Belanda membuatkan izin konsensi pembukaan relasi kereta api di Jawa kepada NISM untuk membawa hasil perkebunan dan pertanian juga mobilitas pasukan Belanda karena ada Benteng Willem I dan kawasan tangsi militer.

Pada perjalanan kembali ke stasiun Ambarawa, lokomotif tidaklah dilangsir hingga posisinya tetap menarik gerbong tapi lokomotif berjalan mundur. Selama perjalanan, masyarakat di sekitar rel menyambut antusias, bahkan ada anak-anak kecil yang berlari mengiringi kereta. Tiga tahun yg lalu, perjalanan wisata KA uap di rute tersebut sempat dibuka, namun akhirnya berhenti beroperasi. Dihari ini, rute itu dioperasikan kembali demi memperingati Hari Museum Indonesia yang terjatuh 12 Oktober lalu.

Untuk bisa menikmati sensasi kereta uap dan rel mendaki bergerigi itu, biaya sewa nya Rp 15 juta sekali jalan. Tidaklah seperti jalur Stasiun Ambarawa-Tuntang, rute ini sungguh harus memakai lokomotif uap, tak bisa diganti lokomotif diesel. “Sewanya Rp 15 juta. Formasinya 2 kereta (gerbong) lalu loko bergerigi. Berkapasitas 80 orang,” kata Eko S. Mulyanto selaku Manager Museum PT. KAI.

Tidak hanya mengaktifkan jalur Ambarawa-Bedono, Museum Kereta Api Ambarawa pun membuka Kereta Pustaka Indonesia seperti gerbong yang diisi buku-buku seputar perkeretaapian dan historinya, pengunjung boleh menonton video kuno perjalanan kereta api.

Leave a Reply

Your email address will not be published.